Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan

Tips & Trik Lolos Tes Masuk S-2 di Perguruan Tinggi Negeri (PTN)


"Gabut banget, nih. Kuliah aja apa, ya?"
😂

Terkadang aku mendapat bisikan semacam itu ketika aku mengalami kegabutan yang HQQ, gaissss. Yha itu tidak lain dan tidak bukan karena emang akunya nganggur aja yekaaannn? Alesan baeee, heleeeeehhhh~

But, however, aku tidak akan membiarkan diriku hanya begini-begini saja tanpa melakukan suatu pergerakan which is dapat mengakibatkan tumpulnya daya kerja otakku dan lumpuhnya perasaanku. *APAAN SIH WOYYYY* 💢

So, di postinganku kali ini aku akan membahas tentang tips dan trik agar kamu bisa lolos tes masuk PTN untuk jenjang S-2. Kampus yang aku tuju di sini yaitu Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS). Jadi, bakalan lebih spesifik, ya. Tapi, secara umum soal-soal tes ini juga berlaku di perguruan tinggi lainnya, guys.

Buat kamu yang anti banget baca artikel sepanjang Anyer-Panarukan dan lebih memilih untuk menonton tayangan melalui video, HERE IT IS, GUYS! Aku kasih link-nya di bawah ini karena aku udah bikin juga tips & triknya berupa video. Langsung klik aja, yeeee:

Sekalian subscribe juga boleh, loh. Boleh banget, guys. Jadi ntar kalo aku upload video baru, kamu jadi bisa langsung gercep buat nonton. *pede level akut*
Jangan lupa tinggalin like dan comment, terus share juga karena pasti banyak banget orang yang membutuhkan video dengan konten yang informatif serta inspiratif seperti ini, khaaannn? *super demanding banget emang orangnya buset*

HOOOOKAAAAAYYYYYY!

Sudah cukup mukadimahnya. *Udah kepanjangan banget, Maemunaaahhh*
Sekarang langsung aja ke bagian inti.
Maka, perhatikan dengan seksama yaaaaaa, wahai para netizen yang budiman.
😎

Tes masuk ke PTN terutama di UNS untuk jenjang S-2 (Pascasarjana) ini berupa multiple choice (pilihan ganda) yang terdiri atas dua tipe, yaitu Tes Pengetahuan Umum dan Tes Bahasa Inggris.
Tes Pengetahuan Umum berisi 90 soal yang harus diselesaikan dalam waktu 90 menit. Sementara, Tes Bahasa Inggris berisi 75 soal, tapi aku lupa harus dikerjakan berapa menit. 💆

Soal-soal yang ada di Tes Pengetahuan Umum terdiri atas soal:
  1. Verbal 
  2. Numerik
  3. Analitik
  4. Spasial
Nah, kita akan bahas satu per satu sekaligus aku berikan tips dan triknya dalam mengerjakan.

Soal Verbal
Soal verbal ini ciri khasnya gampang banget, ada bacaan yang paragrafnya panjang banget. Dan, soal yang ditanyakan biasanya tentang ide pokok, main idea, pokok permasalahan, ya gitu-gitu deh. Kalo nggak gitu, nanti akan ditanya tentang satu kata yang bakalan dicari definisinya. Kayak gini contohnya 👇
Contoh soal verbal
Tips:
Gunakan teknik skimming & scanning dalam membaca paragraf. Baca soal terlebih dahulu, pahami betul-betul maksud dari soalnya, kemudian baru 'baca' paragrafnya. Usahakan fokus! Jangan ngelamunin gebetan apalagi mantan!!11!!!1111!!
Sering-sering baca berita untuk memperkaya kosa kata. Biasakan diri membaca paragraf yang panjang.

Soal Numerik
Sebenernya kita udah familiar dengan soal-soal seperti ini, apalagi kita udah mengenyam pendidikan selama bertahun-tahun dan kita PASTI menjumpai mata pelajaran matematika. Hidup kita memang tidak bisa terhindarkan dari matematika, dear.
Contoh soal numerik
Actually, soal seperti itu mudah saja, bukan? Hanya soal matematika sederhana. But, kalo kamu nggak hati-hati, kamu bakalan kejeglong dan jawaban kamu bisa salah besar. Makanya, hati-hati!
Kamu harus cermat, cepat, dan tepat.
Tipsnya bakalan aku jadikan satu dengan soal analitik di bawah.

Soal Analitik
Hampir sama dengan soal numerik, soal analitik ini juga membutuhkan kekuatan logika tingkat dewa. Daya penalaran kamu harus bekerja semaksimal mungkin di sini. Sekali lagi, fokus!
Contoh soal analitik
See? Soal analitik nggak melulu berkaitan dengan angka. Tapi, kamu harus bisa menguasainya dan memecahkan permasalahannya. Kekuatan logika sangat memegang peranan penting di sini.

Tips:
Soal seperti itu sudah ada polanya. Kalaupun diganti angkanya/permasalahannya, nggak masalah. As long as kamu udah tahu polanya, kamu cepat dan teliti dalam mengerjakan, beres sudah.
Sering-sering aja latihan soal serupa supaya kamu familiar dan paham dengan cepat, serta kamu bisa menemukan titik ternyaman kamu dalam menyelesaikan soal-soal itu.

Soal Spasial
Udah tahu lah, yaaaa. Ini soal yang berisi gambar-gambar yang nantinya kamu disuruh untuk menentukan kelanjutan gambar yang tepat.
Contoh soal spasial
Tips:
Lagi-lagi, kamu harus mampu menguasai logika. Penalaran kamu kudu main banget di sini, hanya saja ini berkaitan dengan ruang. Sering-seringlah latihan menjumpai soal serupa. Latihlah otak kamu untuk menemukan jawaban dengan cepat dan tepat.

By the way, di Tes Pengetahuan Umum ini kamu juga akan menjumpai Tes Karakteristik Kepribadian sebanyak 15 soal. Isinya berupa studi kasus yang nantinya kamu disuruh menentukan solusi yang tepat atas permasalahan tersebut. Nah, masalahnya, opsi jawaban yang ada itu sifatnya betul semua, tapi berlevel. Kamu tinggal pilih aja, mana jawaban yang paling tepat menurut kamu.

Tes Bahasa Inggris
Tes ini yang jelas kamu harus punya kapabilitas yang memadai dalam bahasa Inggris, guys.*yaiyalah*
Akan ada soal berupa reading comprehension yang mana bakalan tersedia paragraf panjang dan kamu harus paham betul isi dari paragraf itu. Kemudian, ada juga soal yang berupa koreksi grammar. Lalu, ada lagi soal yang kamu diwajibkan untuk memberikan opini kamu dalam bentuk kalimat-kalimat gitu deh, dan tentunya dalam bahasa Inggris.

Tips:
Banyak baca, banyak latihan, sering nulis, pahami tenses dan grammar dengan baik.

YHAAAA INTI DARI SEMUANYA ADALAH, KAMU HARUS BANYAK-BANYAK LATIHAN. BELAJAR YANG RAJIN, RUTIN, TERATUR.
UDAH ITU AJA.

Jadi, gimana?
Siap kuliah lagi?
Good luck, guys!
💗

Penelitian Pengembangan (Research & Development) 4-D (Four-D) Ala Thiagarajan


Kamu tertarik melakukan penelitian pengembangan? Masih bingung nggak buat menentukan prosedur penelitian pengembangan yang sesuai dengan topik penelitianmu? Setelah baca artikel ini sampai habis, semoga kamu nggak bakalan bingung lagi, ya! Karena aku bakalan ngebahas secara padat dan tidak ringkas perihal salah satu prosedur penelitian pengembangan yang kerapkali digunakan oleh para peneliti.
Credit: nan-labs.com
Yak! Dari judulnya aja udah kelihatan pokok bahasan yang mau aku ulas. 4-D ala Thiagarajan. Prosedur penelitian 4-D memang sangat terkenal dan umum digunakan oleh para peneliti di semua jenjang pendidikan, yaitu S-1, S-2, dan S-3. Prosedur ini lebih disukai karena terkesan ringkas dan tidak membutuhkan banyak tahap. (Ah, masa?)
😇
So, aku bakalan sharing terkait dengan 4-D which is sesuai dengan pengalamanku ngerjain skripsi dan tesis. Penelitianku di jenjang S-1 dan S-2 merupakan penelitian pengembangan yang mana bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk, either produk baru yang masih gresss (belum pernah diciptakan sebelumnya) or produk hasil pengembangan lebih lanjut . Di skripsi aku mengembangkan sebuah alat peraga sebagai media pembelajaran, meanwhile di tesis aku mengembangkan sebuah modul cetak sebagai bahan ajar. Jadi, keduanya sama-sama berupa produk dan prosedur penelitiannya sama-sama mengadaptasi pada pengembangan perangkat model 4-D yang dikemukakan oleh Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn E. Semmel (dalam referensi, biasa dituliskan Thiagarajan, Semmel, and Semmel).
😉
Well, langsung aja kita bahas, yuk! Apa aja langkah-langkahnya? Apa yang harus dilakukan di setiap tahapnya? Instrumen apa yang harus disiapkan di setiap tahapnya?
Pertama-tama kita kenalan dulu sama definisi dari penelitian dan pengembangan yang lebih familiar disebut sebagai R & D alias Research and Development.
R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan (Sukmadinata, 2013:164-165).
👀
Model pengembangan 4-D terdiri atas empat tahap utama (that’s why mostly orang lebih suka pake prosedur ini karena kesannya langkah-langkahnya tuh dikit banget, cuma empat tahap, man!), antara lain Define, Design, Develop, dan Disseminate. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bakalan jadi Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran (disingkatnya jadi 4-P).
Lalu, apakah benar langkahnya sungguh-sungguh hanya empat tahap?
TIDAK SEMUDAH ITU, FERGUSO!
Empat tahap itu beranak. Di setiap tahap ada cabang tahap-tahapnya lagi. NAH LOH!
Yuk, baca sampai tuntas!
DEFINE (PENDEFINISIAN)
Langkah awal ini amatlah krusial dan harus benar-benar matang segala sesuatunya, karena ini bakalan ngaruh banget sama proses penelitian dan hasil akhir penelitianmu. Mungkin kamu bisa mikir ‘Oh, ini tuh enteng, studi literatur doang, beres!’, atau ‘Ini sih wawancara guru sama siswa aja bisa laaaah dijadiin bahan, udah cukup’, atau ‘Banyak-banyak ngutip dari jurnal aja bisa, deh’. Jangan senang dulu, bro. Jangan anggap enteng karena sesungguhnya di fase ini kamu harus melakukan setidaknya lima langkah, antara lain:
  • Front-end analysis
  • Learner analysis
  • Task analysis
  • Concept analysis
  • Specifying instructional objectives
Secara singkat, tujuan dari tahap-tahap tersebut adalah untuk menetapkan dan mendefinisikan kebutuhan di dalam proses pembelajaran.
Instrumen yang diperlukan yaitu lembar observasi, panduan wawancara, angket (kuisioner) pengungkap kebutuhan guru dan siswa. Kemudian, hasil temuan tersebut dianalisis dengan cara analisis deskriptif.
👇
Pada tahap front-end analysis, kamu harus menemukan permasalahan dasar yang dialami oleh guru. Kamu bisa tanya-tanya (wawancara mendalam) kepada guru pengampu mata pelajaran mengenai kesulitan yang dialami selama mengajar, tantangan terbesar mengajar pada materi tertentu, keterbatasan fasilitas selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dan sebagainya. By the way, kamu juga bisa minta salinan perangkat pembelajaran yang telah disusun oleh guru, loh. Misalnya, RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran), silabus, prota (Program Tahunan), prosem (Program Semester), dll. Tentu saja, asalkan sang guru tidak berkeberatan memberikannya kepadamu. Hahaha!
👇
Kemudian, kamu harus kepo juga sama siswa-siswinya, dong. Ini masuk di tahap learner analysis. Di sini, kamu bisa melakukan wawancara mendalam ke siswa, kamu dengerin uneg-uneg mereka, kamu tampung semua curhatan mereka tentang kesulitan belajarnya, kamu bisa ajak gosip juga kira-kira mereka suka ato engga sama gurunya, dan buanyaaaaakkk lagi! Pinter-pinternya kamu ngedapetin informasi, deh!
Observe, observe, and observe!
Masuk ke task analysis! Di sini kamu harus bisa mengidentifikasi keterampilan utama guru dan menganalisisnya menjadi sub-keterampilan yang dibutuhkan. Analisis ini dimaksudkan untuk memastikan ulasan pengetahuan yang cukup. Kamu bisa melakukan observasi di kelas saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Kamu bisa duduk di kursi paling belakang dan mulai mengobservasi sedetail mungkin. Hal-hal yang harus kamu perhatikan dan catat: performa guru tatkala mengajar, metode pembelajaran yang diterapkan, kesesuaian dengan materi pembelajaran, antusiasme siswa, keaktifan siswa, kondisi kelas, situasi kelas saat pembelajaran berlangsung (terkendali atau tidak), pemanfaatan teknologi, dan lainnya. Banyak hal yang bisa kamu eksplorasi dari sini. So, jangan sia-siakan kesempatan ketika kamu bisa mengobservasi! Tambahan lagi, kamu bisa juga mengobservasi laboratorium, nggak cuma kelas (yang umumnya dipakai sebagai lokasi belajar). Pokoknya, kamu harus berupaya untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin.
👇
Dalam concept analysis dan specifying instructional objectives, kamu harus bisa mengidentifikasikan keseluruhan hasil temuanmu di atas dalam satu ‘konsep mayor’, kemudian menyusunnya dalam bentuk hierarki dan mem-break down-nya. Gampangnya, kamu harus bisa memecah satu per satu temuan yang kamu kumpulkan tersebut sedetail-detailnya. Nah, di sinilah kamu bisa menemukan permasalahan yang menjadi titik fokus utamamu dan kamu harus bisa menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
😉
Jangan lupa semua bukti hasil penelusuranmu itu didokumentasikan dengan baik, ya! Difoto, dicatat, direkam. Ini file penting buatmu karena kamu juga harus menganalisisnya dalam bentuk deskripsi di draft Tugas Akhirmu itu.
DESIGN (PERANCANGAN)
Ada tiga tahap utama di fase ini. Lumayan lah yaaaa daripada tahap sebelumnya. Apa aja?
  • Media selection
  • Format selection
  • Initial design
Tujuan utamanya yaitu untuk menyiapkan prototype perangkat pembelajaran.
Instrumen yang dibutuhkan antara lain silabus, RPP, rancangan produk awal. Analisisnya juga berupa analisis deskriptif. Jadi, kamu masih bisa membuat karangan bebas di sini. Wkwk 😂
Kamu mulai harus banyak memeras pikiranmu di sini, karena kamu diharapkan dapat memberikan solusi atas permasalahan yang sudah kamu temukan di tahap Define. Meskipun solusinya masih berupa solusi kasar, at least kamu harus udah tahu produk yang kamu kembangkan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Mudheng ora?
Di media selection dan format selection kamu bisa menjabarkan pemilihan produk yang akan kamu kembangkan, berikut pemilihan formatnya. Aku berikan dua contoh.
  1. Aku membuat alat peraga berupa miniatur sistem tata surya dengan sasaran siswa tunanetra di jenjang SMP. Aku harus memilih bahan utama alat peraga tersebut, yaitu kayu sonokeling. Lalu, aku menggambar desain sistem tata surya yang sudah dilengkapi dengan ukuran masing-masing planet dalam galaksi Bima Sakti (dan tentunya sudah dihitung secara presisi agar perbandingan ukurannya hampir sama dengan aslinya). Untuk memberi keterangan pada model miniatur tersebut, aku harus menempelkan ‘stiker timbul’ yang berisi tulisan dengan huruf Braille. Selain itu, aku juga membuat rekaman suara yang berisi keterangan singkat tentang alat peraga tersebut beserta cara pemakaiannya dalam proses pembelajaran.
  2. Aku membuat modul cetak berbasis saintifik pada materi teori kinetik gas untuk siswa kelas XI SMA yang dapat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Aku harus menyiapkan konten yang bisa mengakomodir semua aspek (saintifik dan kemampuan berpikir kritis) ke dalam sebuah materi fisika, yaitu teori kinetik gas yang bagiku sangat njelimet. Konten tersebut harus tersaji secara sistematis, memenuhi tujuan pembelajaran, menggunakan kalimat  yang sesuai dengan tingkat komprehensi siswa, dan of course memiliki daya tarik yang mempesona agar siswa semangat dalam mempelajarinya. (((sungguh pereussss))). Selain itu, detail format modul berupa ukuran kertas, jenis kertas, format cover, itu juga harus dibahas.
Alat peraga sistem tata surya untuk tunanetra

So, di tahap ini kamu harus bisa memberikan realisasi (walaupun masih absurd banget karena masih berupa rancangan) atas solusi yang kamu tawarkan pada permasalahan yang ada. Setelah itu, barulah di initial design kamu bisa sedikit berbangga karena kamu sudah bisa menunjukkan hasil nyata produkmu itu even though masih kasar dan berantakan sekali, Ferguso. Yang penting kamu sudah berusaha dan berjuang sejauh ini.
DEVELOP
Langkah ini merupakan langkah nyata sebagai realisasi atas solusi dari permasalahan yang ada. Di sini pulalah perjalanan penelitianmu mulai terlihat batang hidungnya. *apa sih?* 😴
Ada dua tahap utama yang harus dilalui di fase ini:
  • Expert appraisal
  • Developmental testing
Tujuannya secara singkat yaitu untuk menghasilkan produk yang sudah direvisi berdasarkan masukan dari para pakar. For a note, penelitian pengembangan selalu ditekankan pada adanya proses revisi berulang kali sampai didapatkan hasil yang mendekati sempurna.
👇
Instrumen yang diperlukan di fase ini antara lain lembar validasi untuk para ahli/expert judgment (ahli materi, ahli media, ahli bahasa, dll), angket respon (guru dan siswa), lembar tes. Analisisnya disesuaikan dengan instrumen yang digunakan, bisa berupa analisis deskriptif, pengubahan skor dari kuantitatif menjadi kualitatif atau sebaliknya, dan bisa diolah dengan menggunakan aplikasi SPSS. Maka dari itu, kamu harus bener-bener menguasai instrumen yang kamu gunakan dalam penelitianmu beserta cara mengolah datanya. Jangan sembrono, Paiman!
💢
Di bagian expert appraisal, sudah jelas bahwa produk yang kamu kembangkan tersebut harus mendapat validasi dari para expert judgment. Untuk validasi instrumen, cukup kamu konsultasikan kepada dosen pembimbing. Sementara itu, untuk produknya kamu harus mendapatkan validasi dari para ahli. Ahli-ahli yang kamu mintai kesediaannya sebagai expert judgment ini nggak cuma dosen, kok. Bisa guru, bisa laboran, bisa staff lain asalkan tetap memenuhi kualifikasi sebagai seorang ahli. Misal, untuk memvalidasi produkmu yang berupa modul pembelajaran ditinjau dari segi tata bahasa, kamu perlu seorang ahli bahasa. Ahli bahasa ini bisa seorang dosen yang menggeluti dunia linguistik atau seorang guru pengampu bahasa Indonesia. Yang jelas, orangnya harus benar-benar expert di bidangnya. Contoh lagi, untuk memvalidasi produkmu yang berupa alat peraga miniatur sistem tata surya, kamu perlu ahli materi. Kamu bisa menunjuk dosen astronomi atau dosen fisika sebagai ahli materi yang bertugas memvalidasi produkmu agar bisa dinilai, ditinjau dari segi materi yang bersangkutan. Dan seterusnya. Sampai sini paham, Rosalinda?
Satu hal yang harus kamu ingat dan lakukan: tetaplah gigih! Keep going! Kenapa? Karena di fase inilah kesabaran dan ketekunanmu diuji. Di saat kamu pikir produkmu sudah tampil bagus, optimal, dan maksimal, kamu justru malah mendapat bermacam-macam koreksi dari para ahli, sehingga kamu harus merevisinya. Revisi berulang kali. Itu ciri khas penelitian pengembangan yang mustahil kamu hindari. Memang harus kamu lalui. Jangan cengeng! Sudah, lakukan saja, revisi saja. Toh, justru proses revisi itulah poin pentingnya. Di sinilah core dari penelitianmu. Adanya revisi yang berulang kali akan membuat produk yang kamu kembangkan semakin matang dan sempurna.
👇
Nah, kalau produkmu sudah kamu revisi berdasarkan masukan dari para ahli (dan juga atas pertimbangan dosen pembimbingmu), kamu bisa melangkah ke tahap berikutnya yaitu developmental testing. Di sini, produkmu bisa kamu ujikan kepada sasaran penelitianmu, entah itu siswa, guru, dan sebagainya. Kalau aku, alat peraga sistem tata surya aku uji cobakan kepada siswa-siswi tunanetra di SLB untuk jenjang SMP. Meanwhile, modul cetak materi teori kinetik gas aku uji cobakan kepada siswa-siswi SMA.
💃
Setelah produk diujicobakan, lalu apa? Yha kamu akan mendapatkan data, dong. Data bisa berupa respon siswa atas produkmu dan data hasil belajar siswa. Untuk respon siswa, kamu bisa tuh dapetin lagi saran-kritik-masukan dari siswa mengenai produkmu. Lalu, produkmu bisa kamu revisi lagi, deh. Sampai benar-benar mendekati sempurna as I said. Nggak apa-apa ngerombak lagi. GAPAPA. Memang harus demikian. Kamu harus kuat. Kowe rapopo.
DISSEMINATE
Akhirnya sampailah di penghujung perjuanganmu, Kisanak. Tahap penyebaran. Di sini ada tiga tahapan juga yang harus kamu penuhi:
  • Validation testing
  • Packaging
  • Diffusion & adoption
Tujuan dari tahap ini yaitu untuk menyebarluaskan produk yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas.
Instrumennya bisa berupa angket/kuesioner, lalu pengolahan datanya bisa berupa pengubahan skor.
👇
Validation testing maksudnya produk yang sudah kamu kembangkan itu digunakan pada tes profesional untuk mendapatkan impact objektif pada sisi kecakapan dan relevansi. Okay, bahasanya sudah mbulet sekali. Intinya, kamu harus menyebarkan produk ini ke skala yang lebih luas. Misal, modul cetak pada materi teori kinetik gas aku sebarkan ke 10 sekolah dengan responden masing-masing satu guru sebagai perwakilan setiap sekolah. Dari situ, aku bisa mendapatkan feedback berupa hasil respon guru-guru tersebut pada modul cetak yang aku kembangkan.
👊
And, then, pada tahap final packaging, diffusion, dan adoption ini lebih mengarah ke kerja sama antara peneliti dengan distributor atau lainnya, berhubungan dengan tampilan fisik produk dan kelanjutan produksi produk yang sudah dikembangkan. Karena sebisa mungkin produk yang sudah kamu kembangkan itu jangan hanya berhenti sampai di sini. Harus ada kelanjutan karena absolutely produkmu itu sangat berguna untuk berbagai pihak, sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitianmu.
👀
And, finally, you’re done!
Kamu selesai!
Untuk meraih kesuksesan memang harus melakukan banyak pengorbanan, entah berupa waktu, tenaga, pikiran, dana, dan bahkan perasaan. Yang jelas dan penting yaitu harus tetap gigih. Tetap berjuang. Jangan menyerah. Stay strong!

Kuliah S2 di UNS Ngapain Aja?


Well, hello, people!
Aku mau sharing ah tentang perjalanan kuliah Magister! Semoga bisa sedikit membantu, ya, buat kamu yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang S-2.
Buat yang sudah merasakan hal yang sama, bisa dong tinggalin komentar di bawah! Biar bisa kasih insight tambahan buat para netizen. Daaaan, kita bisa diskusi, nih!
Aku pernah sharing tentang ini dalam bentuk video. Ada di YoutubeChannel-ku, guys. Buat yang nggak mau baca dan prefer untuk nonton, cussss silakan klik di bawah ini:
Jangan lupa subscribe, yaaaaa!
👆
Baiklah. Tanpa berlama-lama, langsung aja ke inti pembahasan.
Aku kuliah S-2 di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, jurusan Magister Pendidikan Sains. Sebelumnya, jenjang kuliah S-1-ku di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan jurusan Pendidikan Fisika. So, I think it’s still linear, right?
Back to the topic.

Kuliah S-2 terdiri atas minimal 4 semester. Semester 1-2 adalah kuliah teori, which is kuliah di kelas seperti biasa dengan mengambil mata kuliah wajib dan pilihan. Dan, hari-hari yang dijalani masih berkutat seputar hadir di kelas, memperhatikan dosen yang mentransfer ilmu, berdiskusi dengan rekan dalam kelompok, berdiskusi dengan dosen, ngerjain tugas (tugas kelompok dan/atau tugas mandiri), dan lain-lain. Jadwal kuliahnya sih Rabu-Jumat. Namun, kalau ada kelas tambahan/pengganti, bisa diagendakan di hari lain.
😎
Perjuangan yang sesungguhnya dan literally berat banget tapi memang harus dijalani agar dapat segera lulus, baru terasa mulai semester 3 ke atas.
Di semester 3-4 (atau bahkan 5, dan seterusnya) mata kuliah yang diambil HANYA Tesis. Tidak ada mata kuliah lain (kecuali kalau kamu mau mengulang mata kuliah lain untuk memperbaiki nilai kamu yang sebelumnya kurang tuntas).
Meskipun kelihatannya mata kuliah yang diambil itu HANYA Tesis, ternyata Tesis tidak sekadar Tesis.
J A U H   L E B I H   D A R I   I T U , P E M I R S A .
Bahkan, untuk menyelesaikan Tesis ini, aku butuh waktu dari semester 3 sampai semester 5. Tiga semester ini hanya demi merampungkan Tesis sebagai Tugas Akhir!

Langkah-langkah yang aku penuhi ada banyaaaaakkkk banget! Akan tetapi, secara garis besar tahapan-tahapan yang aku lalui ada 4 tahap, antara lain:
  • Seminar Proposal
  • Seminar Kemajuan
  • Seminar Hasil
  • Ujian Tesis
Untuk menempuh keempat tahap tersebut, itu tuh nggak cuma sekadar ngurusin Tesis. Jangan bayangkan kamu hanya ke perpustakaan untuk cari referensi, kemudian konsul bimbingan ini-itu, terus melakukan penelitian, kemudian jebreeeettt langsung Ujian Tesis. NO.
A BIG NO!
Ada banyak jalan alias proses yang harus kamu tempuh dan selesaikan.
Ada satu hal yang harus sangat kamu perhatikan, yaitu PUBLIKASI KARYA ILMIAH.
Ini nggak main-main banget, bro.
Kualifikasi untuk publikasi karya ilmiah yaitu (1) ada jurnal nasional terakreditasi atau jurnal internasional yang bereputasi, dan (2) prosiding internasional bereputasi.
Jadi, kalau ikut prosiding ataupun submit artikel di jurnal tertentu, itu tuh nggak abal-abal. Apalagi sampe yang masuk ke predatory journal. No, it’s a big no.
Kamu bakalan rugi banget. That’s why kamu harus berhati-hati dan waspada, serta teliti. Jangan sampe kamu rugi waktu, rugi dana, rugi upaya. Pokoknya rugi segalanya. Jangan sampe, ya! So, make sure kalo kamu mau mempublikasikan karya ilmiah, harus di tempat-tempat yang tepercaya dan bereputasi, jelas sumbernya.
Well, publikasi karya ilmiah ini menjadi satu-satunya syarat untuk mengikuti Ujian Tesis. Sehingga, mau tidak mau kamu harus punya bekal karya ilmiah yang HARUS SUDAH TERBIT (PUBLISHED) sebelum kamu mengajukan Ujian Tesis. Percuma kalau Tesis kamu sudah selesai dan siap diujikan, tapi kamu belum mempublikasikan karya ilmiah itu.
Makanya aku kemarin tuh bener-bener (kesannya) lamaaaaa banget kuliahnya, karena amat sangat makan banyak waktu dalam accomplishing the final thesis defense. Why? Karena publikasi karya ilmiah itu butuh waktu yang nggak singkat, berbulan-bulan. Jadi, saranku nih buat kamu yang sedang berencana akan melanjutkan kuliah di jenjang S-2 (atau bahkan sedang menjalani kuliah S-2): persiapkan karya ilmiahmu dengan baik sebanyak mungkin.
Dan, karya ilmiahmu itu harus merupakan bagian dari Tesismu. Kamu nggak bisa ngasal gitu aja dalam membuat karya ilmiah, misalnya dengan membuat judul lain yang sama sekali nggak ada kaitannya dengan judul Tesismu. Karya ilmiah yang kamu publikasikan harus merupakan bagian dari Tesismu.
Nah, dalam proses publikasi karya ilmiah ini, aku joined tiga kali di conference yang berbeda-beda.
  • Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (UMS). Karena ini cuma asal ngikut, publikasiku nggak diterima oleh pihak kampusku, dong. Karena skalanya ini hanya nasional. Meanwhile, yang dipersyaratkan oleh kampus adalah seminar yang berskala internasional.
  • ICoSMEE (UNS). Ini merupakan seminar internasional dan juga terindeks Scopus. Namun, ternyata artikelku (artikel yang aku masukkan di prosiding ini) nggak published alias nggak terbit di jurnal internasionalnya, melainkan hanya terbit di jurnal lokal. Automatically, itu belum memenuhi syarat agar aku bisa mengajukan Ujian Tesis. Nah, akhirnya aku harus mengikuti international conference lainnya, dooonggggggg.
  • ICoSEd (UNESA). Alhamdulillah, yaaaaaa. Artikelku diterima. DAN. DITERBITKAN. TERINDEKS SCOPUS. Akhirnyaaaaa, terpenuhi juga syarat untuk lanjut ke tahapan berikutnya demi terselesainya perjuanganku meraih gelar MAGISTER. Anyway,proses penerbitan artikel tuh nggak sebentar, loh. Aku mulai seminar tuh bulan November 2017. Lalu, artikel ini baru diterbitkan pada bulan Mei 2018. Lumayan lama memang. Indeed.
Well, itu baru perjalanan tentang publikasi karya ilmiahnya. Sekarang, mari kita kembali ke pokok pembahasan mengenai empat tahap utama dalam penyelesaian Tesis.

Seminar Proposal
Di tahap ini, kamu mempresentasikan rancangan penelitian kamu. Mestinya udah hafal mati semua lah, yaaaa. Di S-1 pun kamu udah familiar dengan Seminar Proposal tentunya. Pastinya kamu udah melalui fase Seminar Proposal, ‘kan? *serius nanya*
Seminar Proposal ini sifatnya terbuka. Jadi, peserta seminarnya itu bebas. Bisa kawan seangkatan, kakak tingkat, adik tingkat, pacar, orang tua, keponakan, sepupu. Terus ada dosen juga sebagai penguji.
Seminar Kemajuan
Di sini, kamu mempresentasikan kurang lebih hasil penelitian kamu (sejauh mana kamu sudah menjalani proses penelitianmu). Tapi, sebisa mungkin Bab 1 sampai Bab 5 udah komplit lah. Walaupun lampirannya masih acak-adut atau bolong-bolong atau alamannya masih kocar-kacir atau belum terpenuhi semua, pokoknya tetep presentasi aja. However, sebisa mungkin, please, sebisa mungkin draft Tesis kamu udah mendekati sempurna dan pantas untuk dipresentasikan.
Seminar Kemajuan ini juga bersifat terbuka, sama seperti Seminar Proposal.
Seminar Hasil
Semua draft Tesis kamu HARUS SUDAH FIXED SEMUANYA. Lengkap mulai dari depan sampai belakang. Bab 1 sampai Bab 5, lampiran komplit, dan semua perangkat pembelajaran (kalau penelitian kamu tentang penelitian eksperimen) atau produk pembelajaran (kalau penelitian kamu tentang penelitian pengembangan) sudah beres.
Jadi, di tahap ini kamu mempresentasikan hasil dari penelitian kamu. Dan, Seminar Hasil ini bersifat terbuka. Lagi-lagi, kamu harus presentasi di hadapan banyak audience. Ah, tapi udah nggak perlu segrogi itu lah, ya. Orang udah biasa tampil di depan, kok. Wkwkwkwk~
Ujian Tesis
Tahap terakhir dan penentu seluruh perjalanan kuliah di jenjang S-2: Ujian Tesis. Sifatnya tertutup. Jadi, kamu hanya sendirian di dalam sebuah ruangan dan dihadapkan dengan empat orang penguji.
Dua orang dosen pembimbing kamu, which are jadi penguji kamu juga selama proses ujian berlangsung, dan dua orang dosen lainnya bertindak sebagai dosen penguji (Ketua dan Sekretaris). Ingat! Keempat dosen tersebut adalah dosen penguji kamu. Jangan berharap dosen pembimbing ikut ngebelain atau ngebantuin kamu layaknya ketika kamu sedang konsultasi/bimbingan empat mata. Beliau tetap menguji alias ngetes kamu kecuali kalo dosen pembimbingmu itu berhati malaikat jadi nggak tega-tega amat yang nguji.
Intinya, dalam Ujian Tesis kamu akan menjadi single fighter! Hahaha! Berjuang sendirian!
However, semua perjuangan kamu itu bakalan worth it in the end. Semua kerja keras selama ini akan terbayar. Senyum kebahagiaan itu bakalan tergambar di wajah kamu. Rasa haru, senang, sedih, waaah, semuanya, campur aduk!
Setelah dinyatakan LULUS, dan sesaat setelah dosen-dosen meninggalkan ruangan, aku MENANGIS.
Bahagia, sedih, takut, haru, excited, semuanya tak terdeskripsikan lagi!

So, segitu aja sharing-nya kali ini. Semoga bisa memberikan gambaran alias insight buat kamu yang pengen melanjutkan pendidikan formal di jenjang Magister, terutama di Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan jurusan Magister Pendidikan Sains. Untuk tahun perkuliahan ke depan, mungkin ada sedikit perubahan. Tapi, esensinya kurang lebih sama seperti yang aku utarakan di atas.
Semoga bermanfaat!