Ganti Saja DSA-mu!

Memilih Dokter Spesialis Anak (DSA) memang cocok-cocokan, kayak milih skincare. Tapi, ini jauh lebih penting karena berkaitan secara langsung dengan anak kita. Nggak bisa sembarangan lah, yaaa. Semua demi kebaikan anak (dan tentunya kewarasan kita sebagai orang tua).


Curhatan kali ini bermula ketika aku galau akut setelah memeriksakan anakku yang kedua kalinya ke salah satu DSA di kotaku, sebut saja dokter X. Sebenernya sih dari pertama kali ketemu aku agak feeling kurang enak sama si dokter. Ramah sih, tapi penyampaian edukasinya agak ‘menyeramkan’. Beliau terlalu sering memberikan peringatan yang merujuk ke tanda bahaya instead of menyebutkan poin-poin yang menyertai hasil periksa anakku. Jadi, kesannya kayak nakut-nakutin seolah-olah anakku bakalan ngalamin tanda bahaya itu.


Well, untuk pertemuan pertama sih aku masih bisa tolerir toh belum kenal-kenal amat. Lagian, mungkin aku aja yang terlalu baper. Dan, tentu saja penyesuaian aku dengan si dokter pun butuh waktu. So, aku anggap ini hanya semacam “ah, cuma perasaanku aja”.


Aku masih bisa menimbang-nimbang lagi dan mencoba untuk beradaptasi dengan dokter X sehingga aku masih lanjut memeriksakan anakku untuk kedua kalinya kepada beliau. Namun, aku pikir ini sudah cukup. Cukup sampai di sini saja. Cukup untuk terakhir kalinya.


Di pertemuan kedua aku merasa udah nggak mampu lagi untuk fit in dengan cara dokter X memberikan edukasi perihal kesehatan anakku. Too much fear, too much warning. Beliau juga turut menyalahkan bidan desa tempat tinggalku. Plus, beliau nggak segan-segan untuk curcol perihal keengganannya dalam melayani banyak pasien dengan keperluan yang sama, misal imunisasi Z yang memberikan efek samping instan yang sangat tidak disukai oleh si dokter.


Sejak saat itulah aku bener-bener ilfeel dan mulai cari-cari info lain terkait DSA. Indeed, DSA untuk anak pun ternyata cocok-cocokan. Karena komunikasinya secara dewasa pun juga sama kita, kaaann? Percuma kalo DSA kompatibel dengan ilmunya, tapi cara penyampaian ke klien (in this case kita sebagai orang tua si anak) itu buruk. Bukannya turut menenangkan dan bisa menjadi sumber solusi, yang ada malah bikin tambah stres.