Investasi untuk Pemula bersama BukaReksa - Aman, Mudah, dan Terjangkau


Literasi finansial sudah seharusnya digalakkan saat ini, mengingat kemajuan zaman dan pergerakan roda perekonomian terus berkembang dan progresif. Mau tidak mau, kita harus dapat berjalan beriringan mengikuti irama globalisasi. Membicarakan bab keuangan dan penghasilan sejatinya bukan hal yang tabu lagi. However, apparently literasi finansial ini belum sepenuhnya dipahami oleh semua kalangan. Ada beberapa orang yang masih merasa ragu dan malu to be open-minded about this financial thingy. Merasa asing sehingga tidak butuh untuk mengetahui dan menindaklanjutinya menjadi akar dari keengganan bergerak. *well, okay, bahasanya sudah mbulet*
Seminar Reksadana
Beberapa waktu yang lalu, PT BNP Paribas Investment Partners dan Bukalapak menyelenggarakan Seminar Reksadana – Produk Investasi Aman, Mudah, dan Terjangkau di Hotel Alila Solo. Acaranya dibuka untuk umum (siapa pun bisa join) dan gratis. Tentunya ini sangat valuable dan dapat membuka mata masyarakat mengenai pentingnya berinvestasi di masa kini. Bagi netizen yang masih having zero knowledge about those things seperti aku, acara ini of course menambah wawasan dan menyadarkanku untuk keeping an eye perihal investasi. Selama ini, banyak orang yang menganggap investasi itu hanya dilakukan oleh kalangan tertentu (orang berduit a.k.a. konglomerat) atau orang-orang yang sudah lanjut usia demi menghadapi masa tua (udah pensiun, udah nggak kerja). But, salah besar! Investasi itu justru harus dilakukan sejak dini.
💲
Ada dua pembicara yang dihadirkan di Seminar kali ini, yaitu Vivian Secakusuma (Manajer Investasi BNP Paribas) dan Hafizh Asri (Investment Solutions Manager Bukalapak) dan dimoderatori oleh Solihin (Kepala Pengembangan Kebijakan Investasi). Kedua pembicara sama-sama memperkenalkan profil dari masing-masing perusahaan dan memberikan insight tentang reksadana.
💰

Mengenai BNP Paribas dan BukaReksa
PT BNP Paribas sendiri merupakan salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia yang telah berdiri sejak 1992. Berbagai penghargaan pun sudah disabet oleh BNP Paribas selama tahun 2018 ini, antara lain Asset Management Company of the Year 2018, Islamic Asset Manager of the Year 2018, dan Best Islamic Product 2018. Kredibilitasnya sudah tidak bisa diragukan lagi, indeed. Di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terdapat 90 manager investasi, salah satunya adalah BNP Paribas.
Then, Bukalapak kini juga bukan sekadar e-commerce biasa. Bukalapak merupakan e-commerce pertama di Indonesia yang menjadi perpanjangan tangan para investor untuk berinvestasi melalui BukaReksa. Proses yang mudah dan sederhana menjadi jargon utama BukaReksa. Dalam waktu kurang dari 5 jam, terhitung dari proses awal registrasi, kita sudah bisa melakukan transaksi dimulai dari dana minimum sebesar Rp10.000,00!
Bayangin, dong. 10K biasanya buat beli gelato satu scoop, ini malah bisa buat investasi reksadana. Wagelaseh! Plus, BukaReksa ini diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Nggak perlu khawatir lagi kalau kita berinvestasi di BukaReksa. Dijamin aman dan duitnya tetap jadi milikmu. Don’t have any anxiety issues, please.
Dalam pemaparan Vivian dan Hafizh, keduanya sama-sama menyebutkan tentang perbandingan reksadana vs tabungan, serta penjelasan lebih lanjut mengenai ‘high risk, high return’ alias ‘high gain, high risk’. Yeaaaahhh. Sudah hukum alam sih sebenernya bahwa makin tinggi yang dihasilkan, makin tinggi pula risikonya. Kalau mau enaknya sendiri semacam pengen dapet duit banyak dengan risiko yang minim, itu hanya mimpi, Ferguso.
💱
Reksadana sendiri banyak keuntungannya ketimbang menyimpan duit secara konvensional dengan cara menabung di bank. Nilai tabungan cenderung turun karena tergerus oleh inflasi dan biaya administrasi bank.
Yah, actually dari perbandingan di atas terlihat sisi plus dan minus-nya (((Karena di dunia ini tidak ada yang sempurna))). Secara risiko, jelas investasi (reksadana) berisiko tinggi. Tapi, untuk jangka panjang investasi (reksadana) lebih menjanjikan karena nilai bisa bertambah.
👜
Lalu, kenapa harus memilih BukaReksa?
Nice question! Ada beberapa pertimbangan why we should take part of it. Berdasarkan pemaparan Hafizh, ada lima alasan kita harus memilih BukaReksa sebagai jalan untuk berinvestasi.
  1. Imbal hasil yang menarik dan likuid.
  2. Investasi yang ekonomis.
  3. Minim risiko.
  4. Tidak ada biaya transaksi.
  5. Kemudahan bertransaksi.
Ada satu kalimat yang langsung mengguncangkan isi kepalaku:
“Masa depan harus dipersiapkan sejak dini, salah satunya melalui investasi.”

Sebagai generasi millennials yang hidup di era post-modernism, investasi bukanlah hal tabu. Investasi sudah semestinya diterapkan sejak dini. Literasi finansial sudah harus dimapankan sejak dini. Keseimbangan hidup dengan perekonomian yang stabil adalah kunci kesejahteraan. *omong opo to, ell? -_-*
Eh, tapi iya, loh. Kalau kita minim pengetahuan tentang keuangan, zero insight tentang finansial, buta informasi tentang perekonomian, bagaimana kita bisa mengatur cara yang tepat dalam mengelola keuangan?
Padahal banyak sekali tujuan/target/kebutuhan yang tentunya harus kita penuhi di masa yang akan datang. Hidup jangan sesembrono itu, Rosalinda. That’s why kita perlu tahu pentingnya berinvestasi.
💰💰💰💰💰

Tips Investasi dari BNP Paribas
Vivian memaparkan beberapa tips dalam berinvestasi. Ada lima hal, sebagai berikut:
  1. Tentukan tujuan dan jangka waktu investasi.
  2. Tentukan profil risiko.
  3. Pahami produk investasi yang dipilih.
  4. Pastikan produk investasi yang dibeli aman dan diawasi oleh OJK.
  5. Monitor kerja investasi.
Poin nomor 4 sangat jelas dan BukaReksa sangat recommended untuk dipilih sebagai jalan untuk berinvestasi karena aman dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bersama dengan #BloggerSolo
Sudah lebih dari 150.000 investor bergabung bersama BukaReksa. Kamu kapan?

Penginapan Murah di Solo – Griya Asoka Syariah


Beberapa waktu yang lalu aku diberi kesempatan untuk staycation di salah satu penginapan yang ada di Solo, tepatnya di daerah Colomadu. Kebetulan banget, nih. Aku bener-bener lagi butuh healing dan solitude untuk menenangkan diri. *apaan sih*
Griya Asoka Syariah ini berlokasi di Jalan Tohudan, Colomadu. Rutenya kalo dari Jalan Adi Sucipto, start dari Hotel The Alana aja. Abis itu, jalan lurus ke utara sekitar 700 meter. Ada pertigaan, belok kanan (ada plang penunjuk arah, kok). Terus, ketemu, deh! Tempatnya di sisi utara jalan. Biar nggak bingung, bisa cek langsung aja di Google Map, search Griya Asoka.
Lokasinya termasuk jauh dari jalan besar. Suasananya hening, tenang, nggak berisik. Pemandangannya serba ijo. Sawah, pepohonan, rerumputan. 🌳🌴🌿🍀🍃
Konsep penginapan ini pun homestay atau guest house gitu. Jadi, rasanya kayak lagi ada di rumah sendiri. Halamannya cukup luas, bisa menampung beberapa kendaraan, seperti mobil atau minibus. Nggak ada garasi, ya. Jadi, kalo bawa motor, ya motornya cukup diparkir di halaman. Insya Allah aman selalu. Pintu gerbang kalau malam hari juga ditutup.
Suasana di Griya Asoka Syariah
Sesampainya di sana aku disambut oleh seorang wanita paruh baya dan seorang wanita muda, sama-sama berhijab. Ramah sekali. Kemudian, aku diantar ke kamar nomor 07 yang letaknya di belakang. Kamarnya langsung menghadap taman, agak jauh dari lobby. Anyway, di ruangan depan selain ada lobby, ada pula ruang tunggu (ruang tamu) yang cozy banget. Lalu, ada pula ruang yang cukup besar, bisa digunakan untuk meeting.
Ruang tamu
Suasananya bener-bener tenang di sini, jauh dari hiruk-pikuk bising perkotaan. Sejuk, adem, rindang. Kamarnya sendiri menurut aku cukup nyaman. AC bekerja semestinya, ada lemari yang ukurannya besar sekali, ada flat TV dengan channel lokal yang digantung di dinding, ada meja dan kursi plus cermin. Aku dikasih kamar yang ada double bed, padahal aku bobok sendirian, wkwk. Kasurnya nyaman, empuk. Sprei dan selimutnya bersih. Tersedia handuk juga. Meanwhile, untuk toiletry cuma disediakan sabun batang kecil ala hotel. Overall, kamarnya rapi, penataan ruangnya bagus. Hanya saja, agak ngeres lantainya waktu aku datang.
Kamar tidur
Kamar mandinya berisi toilet duduk dan ember besar untuk wadah air. Air krannya lancar banget, jadi airnya bisa melimpah gitu. Saluran pembuangan airnya pun lancar, nggak mampet. Ada gantungan baju juga, bisa buat gantungin baju ganti dan handuk. Ada keranjang untuk wadah keperluan mandi lainnya juga. Toiletnya agak bermasalah, karena nggak bisa di-flush. Jadi, harus manual yang nyentor, coy. Yeah, ini mungkin hanya di kamar yang aku tempati, ya. Aku juga nggak tahu kamar yang lain kayak gimana keadaannya.
Kamar mandi
Zaman sekarang kurang lengkap kalau penginapan nggak tersedia koneksi internet. Tenang. Di Griya Asoka Syariah, ada wifi. Namun, sayang seribu sayang. Wifi-nya melemah kalau aku lagi ada di dalam kamar. Kalau aku pergi ke depan, terutama lobby, koneksi wifi bisa kenceng. Tapi kalau di kamar, langsung melemah. Hmmmmmm.....
Tersedia dapur umum yang letaknya paling ujung, di area belakang. Ada mushola juga, loh. Jadi, sembahyangnya bisa di mushola juga kalau lagi nggak pengen sembahyang di kamar. By the way, di dalam kamar nggak ada sign penunjuk arah kiblat. Jadi, mesti tanya-tanya dulu kalau belum tahu arah kiblatnya.
😁
Meskipun lokasinya agak jauh dari pusat kota, di sekeliling dekat Griya Asoka Syariah sudah tersedia banyak sekali tempat-tempat makan dan minimarket. Kalau pengen jajan atau beli sesuatu, nggak kesusahan lagi, deh. Di sini nggak disediakan sarapan, jadi kalau lapar ya harus keluar dari penginapan, deh.
🌳
Kamar yang aku tempati ada di harga 130K/malam dengan double bed. Ada beberapa kamar yang tersedia, serupa dengan kamar yang aku tempati, bisa untuk 1-2 orang. Kalau untuk keluarga sebanyak 4-6 orang, tersedia kamar juga, loh. Kalau tidak salah, harganya 170K/malam dengan kamar yang jauh lebih luas dan ukuran bed yang lebih besar. Gimana? Terjangkau banget, kan?
👛
PROS
  • Suasana tenang dan sejuk.
  • Pelayanan ramah.
  • Kamar nyaman.
CONS
  • Wifi kurang lancar.
  • Toilet nggak bisa di-flush
Sekian ulasan dariku mengenai penginapan murah yang berkualitas di Solo. Kalau kamu berencana untuk menghabiskan waktu di Solo, nginepnya di Griya Asoka Syariah aja. Mau sendirian atau rame-rame, bisa banget.
See you on my next post, guys!

Penelitian Pengembangan (Research & Development) 4-D (Four-D) Ala Thiagarajan


Kamu tertarik melakukan penelitian pengembangan? Masih bingung nggak buat menentukan prosedur penelitian pengembangan yang sesuai dengan topik penelitianmu? Setelah baca artikel ini sampai habis, semoga kamu nggak bakalan bingung lagi, ya! Karena aku bakalan ngebahas secara padat dan tidak ringkas perihal salah satu prosedur penelitian pengembangan yang kerapkali digunakan oleh para peneliti.
Credit: nan-labs.com
Yak! Dari judulnya aja udah kelihatan pokok bahasan yang mau aku ulas. 4-D ala Thiagarajan. Prosedur penelitian 4-D memang sangat terkenal dan umum digunakan oleh para peneliti di semua jenjang pendidikan, yaitu S-1, S-2, dan S-3. Prosedur ini lebih disukai karena terkesan ringkas dan tidak membutuhkan banyak tahap. (Ah, masa?)
😇
So, aku bakalan sharing terkait dengan 4-D which is sesuai dengan pengalamanku ngerjain skripsi dan tesis. Penelitianku di jenjang S-1 dan S-2 merupakan penelitian pengembangan yang mana bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk, either produk baru yang masih gresss (belum pernah diciptakan sebelumnya) or produk hasil pengembangan lebih lanjut . Di skripsi aku mengembangkan sebuah alat peraga sebagai media pembelajaran, meanwhile di tesis aku mengembangkan sebuah modul cetak sebagai bahan ajar. Jadi, keduanya sama-sama berupa produk dan prosedur penelitiannya sama-sama mengadaptasi pada pengembangan perangkat model 4-D yang dikemukakan oleh Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn E. Semmel (dalam referensi, biasa dituliskan Thiagarajan, Semmel, and Semmel).
😉
Well, langsung aja kita bahas, yuk! Apa aja langkah-langkahnya? Apa yang harus dilakukan di setiap tahapnya? Instrumen apa yang harus disiapkan di setiap tahapnya?
Pertama-tama kita kenalan dulu sama definisi dari penelitian dan pengembangan yang lebih familiar disebut sebagai R & D alias Research and Development.
R & D adalah suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Produk tersebut tidak selalu berbentuk benda atau perangkat keras (hardware), seperti buku, modul, alat bantu pembelajaran di kelas atau di laboratorium, tetapi bisa juga perangkat lunak (software), seperti program komputer untuk pengolahan data, pembelajaran di kelas, perpustakaan atau laboratorium, ataupun model-model pendidikan (Sukmadinata, 2013:164-165).
👀
Model pengembangan 4-D terdiri atas empat tahap utama (that’s why mostly orang lebih suka pake prosedur ini karena kesannya langkah-langkahnya tuh dikit banget, cuma empat tahap, man!), antara lain Define, Design, Develop, dan Disseminate. Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, bakalan jadi Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebaran (disingkatnya jadi 4-P).
Lalu, apakah benar langkahnya sungguh-sungguh hanya empat tahap?
TIDAK SEMUDAH ITU, FERGUSO!
Empat tahap itu beranak. Di setiap tahap ada cabang tahap-tahapnya lagi. NAH LOH!
Yuk, baca sampai tuntas!
DEFINE (PENDEFINISIAN)
Langkah awal ini amatlah krusial dan harus benar-benar matang segala sesuatunya, karena ini bakalan ngaruh banget sama proses penelitian dan hasil akhir penelitianmu. Mungkin kamu bisa mikir ‘Oh, ini tuh enteng, studi literatur doang, beres!’, atau ‘Ini sih wawancara guru sama siswa aja bisa laaaah dijadiin bahan, udah cukup’, atau ‘Banyak-banyak ngutip dari jurnal aja bisa, deh’. Jangan senang dulu, bro. Jangan anggap enteng karena sesungguhnya di fase ini kamu harus melakukan setidaknya lima langkah, antara lain:
  • Front-end analysis
  • Learner analysis
  • Task analysis
  • Concept analysis
  • Specifying instructional objectives
Secara singkat, tujuan dari tahap-tahap tersebut adalah untuk menetapkan dan mendefinisikan kebutuhan di dalam proses pembelajaran.
Instrumen yang diperlukan yaitu lembar observasi, panduan wawancara, angket (kuisioner) pengungkap kebutuhan guru dan siswa. Kemudian, hasil temuan tersebut dianalisis dengan cara analisis deskriptif.
👇
Pada tahap front-end analysis, kamu harus menemukan permasalahan dasar yang dialami oleh guru. Kamu bisa tanya-tanya (wawancara mendalam) kepada guru pengampu mata pelajaran mengenai kesulitan yang dialami selama mengajar, tantangan terbesar mengajar pada materi tertentu, keterbatasan fasilitas selama kegiatan pembelajaran berlangsung, dan sebagainya. By the way, kamu juga bisa minta salinan perangkat pembelajaran yang telah disusun oleh guru, loh. Misalnya, RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran), silabus, prota (Program Tahunan), prosem (Program Semester), dll. Tentu saja, asalkan sang guru tidak berkeberatan memberikannya kepadamu. Hahaha!
👇
Kemudian, kamu harus kepo juga sama siswa-siswinya, dong. Ini masuk di tahap learner analysis. Di sini, kamu bisa melakukan wawancara mendalam ke siswa, kamu dengerin uneg-uneg mereka, kamu tampung semua curhatan mereka tentang kesulitan belajarnya, kamu bisa ajak gosip juga kira-kira mereka suka ato engga sama gurunya, dan buanyaaaaakkk lagi! Pinter-pinternya kamu ngedapetin informasi, deh!
Observe, observe, and observe!
Masuk ke task analysis! Di sini kamu harus bisa mengidentifikasi keterampilan utama guru dan menganalisisnya menjadi sub-keterampilan yang dibutuhkan. Analisis ini dimaksudkan untuk memastikan ulasan pengetahuan yang cukup. Kamu bisa melakukan observasi di kelas saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Kamu bisa duduk di kursi paling belakang dan mulai mengobservasi sedetail mungkin. Hal-hal yang harus kamu perhatikan dan catat: performa guru tatkala mengajar, metode pembelajaran yang diterapkan, kesesuaian dengan materi pembelajaran, antusiasme siswa, keaktifan siswa, kondisi kelas, situasi kelas saat pembelajaran berlangsung (terkendali atau tidak), pemanfaatan teknologi, dan lainnya. Banyak hal yang bisa kamu eksplorasi dari sini. So, jangan sia-siakan kesempatan ketika kamu bisa mengobservasi! Tambahan lagi, kamu bisa juga mengobservasi laboratorium, nggak cuma kelas (yang umumnya dipakai sebagai lokasi belajar). Pokoknya, kamu harus berupaya untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin.
👇
Dalam concept analysis dan specifying instructional objectives, kamu harus bisa mengidentifikasikan keseluruhan hasil temuanmu di atas dalam satu ‘konsep mayor’, kemudian menyusunnya dalam bentuk hierarki dan mem-break down-nya. Gampangnya, kamu harus bisa memecah satu per satu temuan yang kamu kumpulkan tersebut sedetail-detailnya. Nah, di sinilah kamu bisa menemukan permasalahan yang menjadi titik fokus utamamu dan kamu harus bisa menawarkan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut.
😉
Jangan lupa semua bukti hasil penelusuranmu itu didokumentasikan dengan baik, ya! Difoto, dicatat, direkam. Ini file penting buatmu karena kamu juga harus menganalisisnya dalam bentuk deskripsi di draft Tugas Akhirmu itu.
DESIGN (PERANCANGAN)
Ada tiga tahap utama di fase ini. Lumayan lah yaaaa daripada tahap sebelumnya. Apa aja?
  • Media selection
  • Format selection
  • Initial design
Tujuan utamanya yaitu untuk menyiapkan prototype perangkat pembelajaran.
Instrumen yang dibutuhkan antara lain silabus, RPP, rancangan produk awal. Analisisnya juga berupa analisis deskriptif. Jadi, kamu masih bisa membuat karangan bebas di sini. Wkwk 😂
Kamu mulai harus banyak memeras pikiranmu di sini, karena kamu diharapkan dapat memberikan solusi atas permasalahan yang sudah kamu temukan di tahap Define. Meskipun solusinya masih berupa solusi kasar, at least kamu harus udah tahu produk yang kamu kembangkan untuk memberikan solusi atas permasalahan yang ada. Mudheng ora?
Di media selection dan format selection kamu bisa menjabarkan pemilihan produk yang akan kamu kembangkan, berikut pemilihan formatnya. Aku berikan dua contoh.
  1. Aku membuat alat peraga berupa miniatur sistem tata surya dengan sasaran siswa tunanetra di jenjang SMP. Aku harus memilih bahan utama alat peraga tersebut, yaitu kayu sonokeling. Lalu, aku menggambar desain sistem tata surya yang sudah dilengkapi dengan ukuran masing-masing planet dalam galaksi Bima Sakti (dan tentunya sudah dihitung secara presisi agar perbandingan ukurannya hampir sama dengan aslinya). Untuk memberi keterangan pada model miniatur tersebut, aku harus menempelkan ‘stiker timbul’ yang berisi tulisan dengan huruf Braille. Selain itu, aku juga membuat rekaman suara yang berisi keterangan singkat tentang alat peraga tersebut beserta cara pemakaiannya dalam proses pembelajaran.
  2. Aku membuat modul cetak berbasis saintifik pada materi teori kinetik gas untuk siswa kelas XI SMA yang dapat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Aku harus menyiapkan konten yang bisa mengakomodir semua aspek (saintifik dan kemampuan berpikir kritis) ke dalam sebuah materi fisika, yaitu teori kinetik gas yang bagiku sangat njelimet. Konten tersebut harus tersaji secara sistematis, memenuhi tujuan pembelajaran, menggunakan kalimat  yang sesuai dengan tingkat komprehensi siswa, dan of course memiliki daya tarik yang mempesona agar siswa semangat dalam mempelajarinya. (((sungguh pereussss))). Selain itu, detail format modul berupa ukuran kertas, jenis kertas, format cover, itu juga harus dibahas.
Alat peraga sistem tata surya untuk tunanetra

So, di tahap ini kamu harus bisa memberikan realisasi (walaupun masih absurd banget karena masih berupa rancangan) atas solusi yang kamu tawarkan pada permasalahan yang ada. Setelah itu, barulah di initial design kamu bisa sedikit berbangga karena kamu sudah bisa menunjukkan hasil nyata produkmu itu even though masih kasar dan berantakan sekali, Ferguso. Yang penting kamu sudah berusaha dan berjuang sejauh ini.
DEVELOP
Langkah ini merupakan langkah nyata sebagai realisasi atas solusi dari permasalahan yang ada. Di sini pulalah perjalanan penelitianmu mulai terlihat batang hidungnya. *apa sih?* 😴
Ada dua tahap utama yang harus dilalui di fase ini:
  • Expert appraisal
  • Developmental testing
Tujuannya secara singkat yaitu untuk menghasilkan produk yang sudah direvisi berdasarkan masukan dari para pakar. For a note, penelitian pengembangan selalu ditekankan pada adanya proses revisi berulang kali sampai didapatkan hasil yang mendekati sempurna.
👇
Instrumen yang diperlukan di fase ini antara lain lembar validasi untuk para ahli/expert judgment (ahli materi, ahli media, ahli bahasa, dll), angket respon (guru dan siswa), lembar tes. Analisisnya disesuaikan dengan instrumen yang digunakan, bisa berupa analisis deskriptif, pengubahan skor dari kuantitatif menjadi kualitatif atau sebaliknya, dan bisa diolah dengan menggunakan aplikasi SPSS. Maka dari itu, kamu harus bener-bener menguasai instrumen yang kamu gunakan dalam penelitianmu beserta cara mengolah datanya. Jangan sembrono, Paiman!
💢
Di bagian expert appraisal, sudah jelas bahwa produk yang kamu kembangkan tersebut harus mendapat validasi dari para expert judgment. Untuk validasi instrumen, cukup kamu konsultasikan kepada dosen pembimbing. Sementara itu, untuk produknya kamu harus mendapatkan validasi dari para ahli. Ahli-ahli yang kamu mintai kesediaannya sebagai expert judgment ini nggak cuma dosen, kok. Bisa guru, bisa laboran, bisa staff lain asalkan tetap memenuhi kualifikasi sebagai seorang ahli. Misal, untuk memvalidasi produkmu yang berupa modul pembelajaran ditinjau dari segi tata bahasa, kamu perlu seorang ahli bahasa. Ahli bahasa ini bisa seorang dosen yang menggeluti dunia linguistik atau seorang guru pengampu bahasa Indonesia. Yang jelas, orangnya harus benar-benar expert di bidangnya. Contoh lagi, untuk memvalidasi produkmu yang berupa alat peraga miniatur sistem tata surya, kamu perlu ahli materi. Kamu bisa menunjuk dosen astronomi atau dosen fisika sebagai ahli materi yang bertugas memvalidasi produkmu agar bisa dinilai, ditinjau dari segi materi yang bersangkutan. Dan seterusnya. Sampai sini paham, Rosalinda?
Satu hal yang harus kamu ingat dan lakukan: tetaplah gigih! Keep going! Kenapa? Karena di fase inilah kesabaran dan ketekunanmu diuji. Di saat kamu pikir produkmu sudah tampil bagus, optimal, dan maksimal, kamu justru malah mendapat bermacam-macam koreksi dari para ahli, sehingga kamu harus merevisinya. Revisi berulang kali. Itu ciri khas penelitian pengembangan yang mustahil kamu hindari. Memang harus kamu lalui. Jangan cengeng! Sudah, lakukan saja, revisi saja. Toh, justru proses revisi itulah poin pentingnya. Di sinilah core dari penelitianmu. Adanya revisi yang berulang kali akan membuat produk yang kamu kembangkan semakin matang dan sempurna.
👇
Nah, kalau produkmu sudah kamu revisi berdasarkan masukan dari para ahli (dan juga atas pertimbangan dosen pembimbingmu), kamu bisa melangkah ke tahap berikutnya yaitu developmental testing. Di sini, produkmu bisa kamu ujikan kepada sasaran penelitianmu, entah itu siswa, guru, dan sebagainya. Kalau aku, alat peraga sistem tata surya aku uji cobakan kepada siswa-siswi tunanetra di SLB untuk jenjang SMP. Meanwhile, modul cetak materi teori kinetik gas aku uji cobakan kepada siswa-siswi SMA.
💃
Setelah produk diujicobakan, lalu apa? Yha kamu akan mendapatkan data, dong. Data bisa berupa respon siswa atas produkmu dan data hasil belajar siswa. Untuk respon siswa, kamu bisa tuh dapetin lagi saran-kritik-masukan dari siswa mengenai produkmu. Lalu, produkmu bisa kamu revisi lagi, deh. Sampai benar-benar mendekati sempurna as I said. Nggak apa-apa ngerombak lagi. GAPAPA. Memang harus demikian. Kamu harus kuat. Kowe rapopo.
DISSEMINATE
Akhirnya sampailah di penghujung perjuanganmu, Kisanak. Tahap penyebaran. Di sini ada tiga tahapan juga yang harus kamu penuhi:
  • Validation testing
  • Packaging
  • Diffusion & adoption
Tujuan dari tahap ini yaitu untuk menyebarluaskan produk yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas.
Instrumennya bisa berupa angket/kuesioner, lalu pengolahan datanya bisa berupa pengubahan skor.
👇
Validation testing maksudnya produk yang sudah kamu kembangkan itu digunakan pada tes profesional untuk mendapatkan impact objektif pada sisi kecakapan dan relevansi. Okay, bahasanya sudah mbulet sekali. Intinya, kamu harus menyebarkan produk ini ke skala yang lebih luas. Misal, modul cetak pada materi teori kinetik gas aku sebarkan ke 10 sekolah dengan responden masing-masing satu guru sebagai perwakilan setiap sekolah. Dari situ, aku bisa mendapatkan feedback berupa hasil respon guru-guru tersebut pada modul cetak yang aku kembangkan.
👊
And, then, pada tahap final packaging, diffusion, dan adoption ini lebih mengarah ke kerja sama antara peneliti dengan distributor atau lainnya, berhubungan dengan tampilan fisik produk dan kelanjutan produksi produk yang sudah dikembangkan. Karena sebisa mungkin produk yang sudah kamu kembangkan itu jangan hanya berhenti sampai di sini. Harus ada kelanjutan karena absolutely produkmu itu sangat berguna untuk berbagai pihak, sesuai dengan sasaran dan tujuan penelitianmu.
👀
And, finally, you’re done!
Kamu selesai!
Untuk meraih kesuksesan memang harus melakukan banyak pengorbanan, entah berupa waktu, tenaga, pikiran, dana, dan bahkan perasaan. Yang jelas dan penting yaitu harus tetap gigih. Tetap berjuang. Jangan menyerah. Stay strong!